Perkuat Kemandirian Perbenihan Padi dan Rantai Nilai Beras melalui Program ICARE di Kalimantan Barat
Sambas, 7 Agustus 2026 — Balai Perakitan dan Pengujian Pertanian Lahan Rawa (BRMP Rawa) turut memperkuat pelaksanaan program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) di Kalimantan Barat melalui kegiatan Competitive Grant (CG) dan Klinik Modernisasi Pertanian (KMP). Komitmen tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan BRMP Rawa dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan CG dan KMP Program ICARE Kalimantan Barat yang dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di Sekretariat ICARE Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat. Selanjutnya, Manajer PIU ICARE Kalimantan Barat memaparkan gambaran pelaksanaan program ICARE tahun 2026. Dalam paparannya disampaikan bahwa pada tahun 2026 terdapat 13 kegiatan Competitive Grant (CG) dan 2 kegiatan Klinik Modernisasi Pertanian (KMP) yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mendorong modernisasi pertanian, peningkatan produktivitas, serta penguatan rantai nilai komoditas pertanian di Kalimantan Barat.
Dalam forum tersebut, Kepala BRMP Rawa memaparkan rencana pelaksanaan kegiatan CG dengan judul “Perbenihan Padi Mandiri untuk Penguatan Rantai Nilai Komoditas Padi di Kalimantan Barat.” Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan pada tahun sebelumnya yang diarahkan untuk membangun sistem perbenihan padi yang lebih mandiri, terstandar, adaptif terhadap kondisi lahan rawa pasang surut, serta mampu mendukung penguatan rantai nilai komoditas padi di kawasan ICARE Kalimantan Barat.
Pada pelaksanaan tahun 2025, kegiatan tersebut telah menghasilkan sejumlah capaian penting. Salah satunya adalah terbentuknya satu petani penangkar benih padi rawa yang memiliki kapasitas terstandar dengan nama produsen Koperasi Sungai Kelambu Sejahtera. Selain itu, hasil ubinan BPS pada demplot perbenihan menunjukkan produktivitas sebesar 7–8 ton per hektare untuk varietas padi rawa Inpara 2 dan Inpara 3. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk melanjutkan pengembangan sistem perbenihan padi secara lebih luas dan berkelanjutan.
Memasuki tahun 2026 sebagai tahun lanjutan, BRMP Rawa mengidentifikasi tiga tahapan utama kegiatan. Pertama, survei tingkat kemandirian petani dalam penyediaan benih padi terstandar di kawasan ICARE Kalimantan Barat. Survei ini diperlukan untuk memperoleh gambaran kondisi aktual, tingkat kapasitas, kebutuhan, serta berbagai kendala petani dalam memenuhi kebutuhan benih padi bermutu secara mandiri.
Kedua, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani serta petugas dalam memperkuat rantai nilai komoditas padi adaptif rawa pasang surut yang terstandar di kawasan ICARE Kalimantan Barat. Tahapan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam membangun sistem perbenihan yang berkelanjutan, mulai dari produksi, pengawasan mutu, hingga penyediaan benih bagi petani.
Ketiga, pelaksanaan demplot percontohan perbenihan padi rawa sebagai wahana pembelajaran dan penerapan teknologi secara langsung di tingkat lapangan. Demplot diharapkan dapat menjadi model produksi benih padi rawa yang adaptif, produktif, bermutu, dan dapat direplikasi oleh kelompok petani lainnya.
Kepala BRMP Rawa selaku Penanggung Jawab Kegiatan menegaskan bahwa tujuan jangka panjang kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi benih, tetapi juga membangun kemandirian petani dalam memproduksi benih padi adaptif lahan rawa pasang surut secara berkelanjutan. Kemandirian tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya kelembagaan ekonomi petani yang kuat, salah satunya melalui pembentukan koperasi tematik petani penangkar benih padi di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, yang secara khusus dapat dikembangkan sebagai sentra produksi benih padi rawa.
“Penguatan perbenihan merupakan salah satu titik penting dalam membangun rantai nilai komoditas padi. Dengan petani yang mampu memproduksi benih sendiri secara terstandar, ketergantungan terhadap pasokan benih dari luar dapat dikurangi sekaligus membuka peluang berkembangnya kelembagaan ekonomi petani,” jelas Kepala BRMP Rawa dalam paparannya.
Sebagai tindak lanjut rapat koordinasi, tim kegiatan CG ICARE BRMP Rawa melaksanakan koordinasi penyiapan lahan untuk demplot perbenihan seluas 5 hektare di Desa Sungai Kelambu, Kecamatan Tebas. Koordinasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan pelaksanaan kegiatan teknis di lapangan sekaligus menyatukan langkah seluruh tim dalam mencapai target tahun 2026.
Dalam koordinasi tersebut, Penanggung Jawab Kegiatan kembali memastikan komitmen tim dalam mengawal pelaksanaan teknis demplot percontohan perbenihan padi rawa. Berbagai kendala yang ditemui pada musim tanam sebelumnya dievaluasi secara bersama untuk selanjutnya diantisipasi dan dimitigasi pada musim tanam tahun berjalan.
Evaluasi tersebut mencakup aspek teknis budidaya, kesiapan lahan, pengelolaan kegiatan perbenihan, serta koordinasi antarpetugas dan petani. Dengan evaluasi dan mitigasi yang dilakukan sejak tahap persiapan, pelaksanaan demplot tahun 2026 diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan tahun sebelumnya.
Tim teknis lapangan selanjutnya berkomitmen untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dalam mengawal pelaksanaan demplot hingga tahap akhir. Kolaborasi tersebut menjadi faktor penting untuk memastikan target kegiatan tidak hanya tercapai secara kuantitatif, tetapi juga menghasilkan model perbenihan yang dapat diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh petani di kawasan ICARE Kalimantan Barat.
Tidak berhenti pada aspek produksi dan perbenihan, rangkaian kegiatan CG ICARE BRMP Rawa juga diarahkan untuk melihat peluang pengembangan rantai nilai padi hingga pasar yang lebih luas. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, tim teknis CG ICARE BRMP Rawa melakukan kunjungan ke Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Provinsi Kalimantan Barat (Barantin Kalbar) untuk berkonsultasi mengenai regulasi dan persyaratan yang mendukung potensi ekspor komoditas beras dari Kabupaten Sambas.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Barantin Kalbar menyampaikan bahwa pada prinsipnya mereka memahami dan mendukung potensi ekspor beras dari Kabupaten Sambas. Namun demikian, untuk merealisasikan ekspor ke negara buyer, terdapat berbagai persyaratan dan dokumen yang harus dipenuhi hingga dapat diterbitkannya export permit sesuai ketentuan negara tujuan.
Salah satu dokumen yang dapat didukung oleh Barantin adalah Phytosanitary Certificate, sebagai bagian dari pemenuhan persyaratan kesehatan tumbuhan untuk komoditas yang akan diekspor. Selain itu, masih terdapat sejumlah dokumen dan persyaratan lain yang perlu dipenuhi melalui koordinasi dengan instansi terkait, termasuk unsur perdagangan dan kelembagaan penjaminan mutu atau keamanan pangan.
Pihak Barantin Kalimantan Barat juga memberikan masukan konkret bahwa apabila potensi ekspor beras Kabupaten Sambas akan ditindaklanjuti secara serius, maka diperlukan koordinasi lintas pemangku kepentingan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mempertemukan berbagai stakeholder terkait dalam forum Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan kesiapan komoditas, persyaratan negara tujuan, dokumen ekspor, aspek mutu dan keamanan pangan, hingga mekanisme logistik dan perdagangan.
Langkah tersebut menjadi penting karena penguatan rantai nilai padi tidak cukup hanya dilakukan dari sisi produksi. Kesiapan kelembagaan, standar mutu, jaminan keamanan pangan, sertifikasi, regulasi, serta akses pasar perlu dibangun secara terpadu agar komoditas beras Kabupaten Sambas memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar domestik maupun internasional.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BRMP Rawa berkomitmen menjadikan program CG ICARE sebagai instrumen untuk membangun ekosistem perbenihan dan rantai nilai padi yang lebih kuat di Kalimantan Barat. Dimulai dari kemandirian petani dalam memproduksi benih padi rawa terstandar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan teknologi melalui demplot, penguatan kelembagaan petani, hingga pembukaan peluang akses pasar dan ekspor, kegiatan diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan daya saing komoditas padi dan kesejahteraan petani di kawasan ICARE Kalimantan Barat.
Ke depan, sinergi antara BRMP Rawa, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, PIU ICARE, pemerintah daerah, Barantin, kelompok tani, koperasi, serta pemangku kepentingan lainnya akan terus diperkuat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mewujudkan kawasan percontohan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki sistem produksi, kelembagaan, dan rantai nilai yang berkelanjutan serta berorientasi pada pasar. (AAS)